Translate

Written By Solihin, MCH. on Minggu, 16 Februari 2014 | 2/16/2014

Dalam konteks Ego Personality Therapy (sekarang QHI tidak lagi menggunakan istilah Ego State Therapy) bila Ego Personality (Ego State / Part / Introject / Alter) tidak bersedia mengungkapkan data yang kita, terapis, butuhkan untuk membantu klien meyelesaikan masalahnya, biasanya kita akan minta bantuan Sang Bijaksana agar bersedia memberikan petunjuk atau data yang disembunyikan.
Dari apa yang kita ketahui, lebih tepatnya asumsikan, Sang Bijaksana menempati hirarki yang sangat tinggi dalam sistem Ego Personality seseorang. Jadi, dengan asumsi ini, saat Sang Bijaksana muncul maka ia akan membantu kita mengungkap data, memberikan nasihat, masukan, saran, dan bahkan membuat Ego Personality yang keras kepala langsung takluk dan tidak berani macam-macam.
Benarkah demikian adanya?
Ternyata hasil temuan di lapangan tidak sepenuhnya seperti yang diharapkan atau diasumsikan. Benar, seringkali yang muncul adalah Sang Bijaksana yang benar-benar bijaksana dan mampu membantu proses terapi sehingga lebih mudah. Namun seringkali yang muncul adalah Sang Bijaksana yang tidak bijaksana, lemah, tidak berdaya, dan, maaf, goblok alias blo’on. Dengan demikian seakan-akan peran Sang Bijaksana ini sama sekali tidak signifikan dalam sistem psikis seseorang.
Cukup lama saya berpikir mengapa hal ini terjadi. Mengapa Sang Bijaksana ternyata tidak bijaksana seperti yang seharusnya?
Hasil riset yang dilakukan oleh pakar Ego State atau Part seperti Watkins, Sarbin, May, Spiegel, Hilgard, Putnam, Beahrs, Kohut, dan masih banyak lagi nama besar lainnya menyatakan bahwa dalam diri setiap orang memang ada satu bagian yang bertindak sebagai Internal Self Helper atau Hidden Observer atau yang kita namakan sebagai Sang Bijaksana.
Kembali ke pertanyaan di atas, “Mengapa Sang Bijaksana yang muncul atau menjadi executive ternyata tidak bijaksana?”
Hasil analisis Advanced Research and Development QHI sebagai berikut. Pertama, kita perlu memahami bahwa ada dua jenis logika yaitu Conscious Logic dan Trance Logic. Dua jenis logika ini bekerja paralel, sesuai dengan kerja dua kesadaran, pikiran sadar dan bawah sadar, yang paralel aktif dan saling mempengaruhi, kecuali saat kondisi tidur.  Dua jenis logika ini berbeda. Logika pikiran sadar mengikuti hasil pembelajaran individu hingga ke usianya saat ini. Sedangkan logika pikiran bawah sadar menyerupai logika anak usia 8 tahun. Di sinilah masalah timbul karena terapis umumnya lupa bahwa saat memproses klien maka terapis berhadapan dengan Pikiran Bawah Sadar (Trance Logic) bukan Conscious Logic.
Hal lain yang kita, terapis, lupa yaitu bahwa Sang Bijaksana sendiri sebenarnya adalah satu Folder Ego Personality yang di dalamnya bisa terdiri dari beberapa Ego Personality. Di dalam folder Sang Bijaksana sendiri ada hirarki yang menentukan level pengetahuan, kompetensi, pengalaman, dan juga otoritas.
Dengan berlandaskan pada paparan teori ini maka kini kita tahu bahwa keluarnya Sang Bijaksana yang tidak bijaksana bisa disebabkan beberapa faktor:
1.Semantik yang digunakan oleh terapis tidak tepat.
2.Semantik yang digunakan bersifat general dan tidak spesifik.
3.Intervensi dari pikiran sadar klien karena kedalaman hipnosis tidak berada di level somnambulism.
4.Adanya Blocking dari Ego Personality yang tidak menghendaki perubahan pada diri klien.
5.Hypnotic Rapport antara terapis dan Underlying Personality yang akan dilibatkan dalam proses terapi tidak terjalin dengan baik.
6.Adanya rasa takut baik pada Executive Ego Personality maupun yang Underlying Ego Personality.
Lalu, bagaimana caranya untuk mengundang keluar Sang Bijaksana yang benar-benar bijaksana?
Untuk bisa mengundang keluar Sang Bijaksana yang sungguh bijaksana maka kita perlu memperhatikan enam poin di atas. Bila enam poin di atas tidak terpenuhi maka yang muncul biasanya Sang Bijaksana yang tidak bijaksana, blo’on, dan sama sekali tidak bisa diandalkan.
Salah satu sebab utama, menurut temuan di lapangan, yang membuat Sang Bijaksana yang muncul ternyata tidak bijaksana adalah semantik yang tidak tepat dan tidak spesifik seperti berikut:
“Saya ingin bicara dengan bagian diri anda yang bijaksana untuk membantu proses terapi ini. Bagian diri ini saya namakan Sang Bijaksana. Nah, Sang Bijaksana, apakah anda bersedia berkomunikasi dengan saya. Kalau ya katakan bersedia.”
Semantik di atas sekilas sudah tepat. Namun ternyata masih bersifat general, tidak spesifik, dan tidak presisi.
Ingat, yang kita ajak bicara adalah Pikiran Bawah Sadar yang menyerupai anak usia 8 tahun. Jadi, logikanya juga sama seperti anak yang 8 tahun. Pemahaman seorang anak mengenai makna kata “bijaksana” tentunya berbeda dengan klien yang dewasa. Nah, saat Pikiran Bawah Sadar diberi perintah dengan kalimat seperti di atas maka yang muncul bisa macam-macam bergantung pada pemahaman anak 8 tahun.
Selamat datang di Official Website Solihin, untuk kritik dan saran disampaikan melalui email : solihinkmd@gmail.com, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga bermanfaat untuk semua...!!!