Translate

Written By Solihin, MCH. on Sabtu, 13 September 2014 | 9/13/2014

Ayat Al Akhras, memilih menjadi bidadari surga menjelang pernikahannya

Ayat Al Akhras lahir pada 20 Februari 1985 di Kamp Dheishes, Palestina. Menurut sang ibu, Ny. Al Akhras, pada malam itu gadis berusia enam belas tahun ini nyaris tidak tidur. Ia membaca Al Qur'an hingga tengah malam. Ketika bangun untuk melaksanakan shalat malam, sang ibu mendapati Ayat Al Akhras sedang membaca ayat-ayat An-Naba sambil menangis. 
Seusai menjalankan shalat shubuh, remaja shalihah tersebut kembali membaca Al Qur'an. Ia membaca ayat-ayat jihad yag panjang secara berulang-ulang. Suaranya bergetar dan sesekali terhenti menahan tangis. Menjelang pkl. 06.00 waktu Palestina, Ayat Al Akhras duduk didepan meja belajar dan menulis sesuatu diatas selembar kertas. Keudian ia mengenakan seragam dan bergegas menemui sang ibu didapur. Ia mohon pamit padanya untuk pergi ke sekolah karena ada tugas tambahan.
"Hari ini boleh jadi adalah hari terpenting dalam hidup saya. Oleh karena itu, saya mohon do'a restu dari ibu," kata Ayat Al Akhras dengan mata berbinar-binar. Ny. Al Akhras bingung bercampur heran melihat tingkah laku Ayat Al Akhras. Sebab, hari jum'at seharusnya putrinya libur sekolah. "semoga Allah selalu melindungi dan merahmatimu, Anakku!" jawab sang ibu. "Doa ibunda yang selalu ananda harapkan," jawab Ayat Al Akhras singkat.
Selanjutnya Ayat Al Akhras hanya tersenyum dan mencium tangan sang ibu. Lalu, memeluk sang ibu yang masih kebingungan erat-erat. Sambil tetap tersenyum, iapun menarik tangan sang adik yang berusia 10 tahun, Samaah dan bergegas bersama-sama pergi ke sekolah.
Pada pukul 10.00 waktu setempat, Ny. Al Akhras mendengar berita terjadinya ledakan bom disupermarket Nataynya, dekat Yerussalem dari stasiun radio Israel. Ledakan tersebut menyebabkan 3 orang tewas dan 40 orang lebih mengalami luka-luka. Tiba-tiba, jantung Ny. Akhras serasa berhenti berdetak. Firasatnya mengatakan bahwa putrinya terlibat dalam aksi jihad itu.
Tak lama kemudian, Ny. Al Akhras melihat Samaah pulang sendirian tanpa ditemani sang kakak sambil menangis terisak-isak. Ia mengatakan bahwa ia tak tahu kemana sang kakak pergi.
"sebelum pergi, kakak berkata 'jangan cemas dan takut, Allah bersama kita, orang-orang yang beriman. Sampaikan salam buat semua orang dan berdo'alah. Mudah-mudahan Allah memberikan pengampunan dan kemenangan!", cerita Samaah kepada sang ibu.
Dikamp. pengungsian Ny. Al Akhras harap-harap cemas memikirkan nasib putrinya. Berbagai pikiran berkecamuk didalam batinnya.
Kemanakah dia pergi? Apakah dia sudah mewujudkan impiannya untuk menjad syahidah? bagaimana dengan impiannya yang lain?tentang pinangan, rencana pernikahan dan pakaian pengantin yang sudah dijahitnya sensiri? Bukankah dia juga bercita-cita untuk melahirkan banyak anak, lalu membina mereka menjadi mujahid-mujahis yang tangguh?
Namun sebagai seorang ibu, nalurinya Ny. Al Akhras mengisyaratkan bahwa putrinya telah gugur dalam aksi bom syahid. Maka saat mendengar kepastian berita tentag sang putri, ia hanya bisa bergumam 'Innalillahi wainna ilaihi raaji'un'. Semoga Allah mencatat sebagai syahidah. Mudah-mudahan dia juga bisa menjadi pengatin Palestina yang bisa melahirkan kehormatan dan kemerdekaan bagi umat dan bangsanya.
Pada siang jum'at itu, Ayat Al Akhras pergi menyusul Issa Farah dan Saa'id, dua orang kerabatnya yang gugur diterjang helikopter Israel. Menurut berita yang dilansir oleh ABC News, siswa kelas tiga sekolah menengah atas ini termasuk anak yang cerdas dan rajin belajar. Bahkan, hingga menjelang syahidnya ia maih rajin menasehati teman-temannya untuk belajar terus menerus. Ia mengatakan bahwa penguasaan teknologi sangat diperlukan untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina, apapun bentuknya.
Walaupun Ny. Al Akhras tahu bahwa syahidah adalah cita-cita tertingi putrinya, tapi tetap saja ia merasa kehilangan. Dengan berlinang air mata ia mengulangi kata-kata putrinya, "Apa nikmatnya hidup didunia ketika kematian selalu mengintai kita. Mana yang lebih indah, mati dalam ketidakbberdayaan dan kehinaan, atau gugur dimedan jihad?".
Sementara itu, sang adik Samaah mengisahkan saat terakhirnya bersama sang kakak sambil menangis "Saya melihat cahaya dan sebuah rona kebahagiaan diwajah kakak yang tak pernah saya lihat sebelumnya, sambil memberikan sepotong coklat kepada saya ia berkata 'shalat dan do'akan kakak agar sukses melaksanakan tugas suci ini".
"Tugas apa?" tanya Samaah
"Hari ini kamu akan mendengar  sebuah berita baik. Mungkin inilah hari terbaik daam hidupku. Inilah hari yang telah lama aku nantikan. Tolong sampaikan salam hormatku pada akh Shaadi," kata Ayat Al Akhras sambil memberikan secarik kertas pada Samaah. 
Saat menerima khabar tentang kepergian Ayat Al Akhras, sang calon suami, Shaadi Abu Laan hanya diam seribu bahasa. Pria yang berusia dua puluh tahun ini nyaris tak percaya kalau calon istrinya pergi begitu cepat mendahuluinya. Padahal mereka berencana menikah pada bulan Juli tahun ini begitu Ayat Al Akhras lulus ujian, mereka berdua akan segera menempati rumah sederhana yang sudah disiapkan. Bahkan mereka juga sudah menyiapkan nama untuk anak pertama mereka. Namun, ternyata Allah mempunyai rencana lain. 
"Semoga kakak kami bisa bertemu di surga. Sebab, dia mencintai agamanya lebih dari apapun," ujar Shaadi Abu Laan.
Selamat datang di Official Website Solihin, untuk kritik dan saran disampaikan melalui email : solihinkmd@gmail.com, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga bermanfaat untuk semua...!!!